Skip to content

BENANG MERAH KONFLIK ISRAEL DAN UMAT MANUSIA

September 15, 2010

Akar Konflik Palestina-Israel
Sebagai hadiah menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1 Muharram 1430 H.
Sebagai bentuk rasa solidaritas kepada saudara-saudara umat manusia

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara
dengan TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27
Desember lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama
puluhan tahun. Dalam ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan
Israel kali ini merupakan kejadian paling buruk sejak 60 tahun
terakhir (sejak Israel berdiri tahun 1948). Para mahasiswa Arab
mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk keras
serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan
serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan
cadangan sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud
Barak, yaitu menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan
bangsa lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua.
Disana terbentang benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi
Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah,
konflik antara Yahudi dan Romawi, konflik antara Yahudi dengan negara-
negara Eropa, konflik antara Musa dengan Fir’aun, bahkan konflik
antara Yusuf ‘alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya
adalah konflik abadi antara Allah Ta’ala dengan iblis
laknatullah ‘alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah
Anda akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman
modern yang penuh kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik
ini. Yahudi sendiri adalah bangsa “terkuat di dunia”, dalam arti:
merekalah satu-satunya ras manusia yang berani konfrontatif melawan
kehendak Allah Ta’ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi
Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali
catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan
menemukan bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh.
Jika tidak demikian, maka kita hanya akan “konsumen terbaik” berita-
berita media massa seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah
dimulai sejak era Perang Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra
Satila, Intifadhah akhir 80-an, tragedi Al Khalil Hebron, penembakan
Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz
Rantisi, dll. sampai serangan Israel saat ini. Dan rata-rata model
peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para pelakunya saja.
Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia,
dengan memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta’ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim ‘alaihissalam.
Ibrahim memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq ‘alaihimassalam. . Ismail
nanti menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai
anak Ya’qub ‘alaihissalam. Nah, Ya’qub inilah yang kemudian disebut
Israil, sehingga anak-anak Ya’qub di kemudian hari disebut Bani
Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju
kepada anak-anak Ya’qub. Mereka adalah Yusuf ‘alaihissalam, Benyamin,
dan 11 saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya
dengan matahari, bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi
Yusuf sedang bersujud kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan “angka
keramat” bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top
dunia dibuat dari karakter 13 ini.

[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu:
sifat keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari
garis Yusuf ‘alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari
sifat saudara-saudara Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak
bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu
sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat
Ya’qub, seluruh anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah:
133). Saat berbicara tentang Bani Israil, sebagian orang sangat
shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun setelah kedatangan Islam,
Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti agama selain Islam.
Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka seluruhnya, tidak ada
toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf ‘alaihissalam
bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf
membantu bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir
di wilayah Kan’an. Disana Ya’qub dan anak-keturunannya mulai
membangun kehidupan. Mereka memilih tinggal di Kan’an sebab dekat
dengan Mesir yang makmur, sedang di tempat asalnya sering dilanda
paceklik. Waktu itu anak keturunan Ya’qub sangat dihormati penguasa
Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan bangsa Mesir dengan anak-
keturunan Ya’qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih Mesir akan
menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan Bani
Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya’qub dan Yusuf,
nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa
terjadi karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas
bangsa Mesir. Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang
bersikap sportif kepada Yusuf,
kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan
saja karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan
karakter sebuah bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun
mereka tertindas oleh sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi
anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala bakat itu
dibesarkan di bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan
penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa. Oleh karena itu Allah
Ta’ala mendatangkan Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk
menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan
Fir’aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari
penindasan Fir’aun. Dalam Al Qur’an: Dan Musa berkata: “Hai Fir’aun,
sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam,
wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang
hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata
dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani
Israil (pergi) bersama aku.” (Al A’raaf: 104-105). Musa tidak pernah
diperintahkan untuk memerangi Fir’aun, tetapi membawa Bani Israil
tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu
dicatat juga, Fir’aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja Mesir, bukan
nama seseorang. Sedangkan Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah
bukanlah Fir’aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut
janggutnya oleh Musa. Fir’aun dalam Al Qur’an lebih mencerminkan
tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun dan
bala tentaranya tenggelam di Laut Merah.. Lalu mereka menetap di
Ardhul Muqaddas (Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum
Jabbarin di dalamnya. (Al Maa’idah: 20-26). Ini adalah peradaban
mandiri Bani Israil kedua setelah era Ya’qub dan Yusuf di wilayah
Kan’aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil sampai saat mereka
wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak henti-hentinya
menguji kesabaran Musa ‘alaihissalam. Betapa banyak kasus-kasus
kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri, Musa
dan Harun. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di
Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa
agar membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu;
mereka mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas;
mereka hendak membunuh Harun ‘alaihissalam karena selalu menasehati
mereka; mereka hampir tidak melaksanakan
perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena terlalu banyak
bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta bawang,
menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa, sehingga
Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semoga Allah
merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini
(ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar.” (HR. Bukhari-
Muslim) . Sangat mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan
Musa ‘alaihissalam. Di dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi
untuk menghadapi konspirasi global seperti saat ini. Orang-orang
Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era
nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka sia-siakan. Musa itu
lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada Yahudi laknatullah
itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan
kristalisasi dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak
perilaku saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam, masa perbudakan di
Mesir, kedurhakaan mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya,
Yahya, Isa, dan Nabi-nabi lainnya ‘alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan
mereka di hadapan Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam di Madinah. Dalam
Al Qur’an disebutkan sebuah ayat yang terasa bagai petir menimpa muka
kaum Yahudi: “Lalu ditimpahkanlah kepada mereka (kaum durjana Bani
Israil) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari
Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat
Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak. Demikian itu (terjadi)
karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (Al
Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah
Kerajaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam di Palestina. Beliau adalah
putra Nabi Dawud ‘alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud
adalah seorang pejuang yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di
Palestina. (Oleh karena itu bangsa Barat mengenal kisah “David and
Goliath”). Beliau ikut dalam pasukan Bani Israil di bawah pimpinan
Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel ‘alaihissalam. Al
Qur’an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251.

[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya
yang sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia,
sebagai harta terpendam “King Solomon”. Sampai saat ini kekayaan itu
masih menjadi misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di
balik permukaan bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu,
kerajaan Bani Israil semakin merosot. Sampai akhirnya mereka
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari Kerajaan Byzantium (Romawi).
Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa’ ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar
ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke
anak benua India, dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan
istilah DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan
di Eropa, mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk
menghasut Romawi agar memusuhi Isa ‘alaihissalam dan para
pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah sebagian pecahan dari para
pengikut Isa Al Masih ‘alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke
Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman
Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang
akan datang setelah Musa dan Isa ‘alaihimassalam. Mereka
ingin “memaksakan” agar Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka..
Kenabian ini mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan Bani
Israil kembali seperti di jaman Musa dan Sulaiman. Namun setelah
mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak mereka, tetapi
jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al Qur’an
disebutkan: “Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab
dari sisi Allah (Al Qur’an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada
di sisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon
(kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka
ketika telah datang (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka kenal,
mereka mengkafirinya. Maka laknat Allah atas� orang-orang kafir itu
(Yahudi).” (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh
ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail ‘alaihissalam. Itu pun
turun di Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi
telah habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus
Musa ‘alaihissalam ini. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah,
melebur bersama budaya Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-
anaknya dengan istilah Arab, bukan istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan
mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan
Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus, sebagian mendukung
Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa
Ta’ala. Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa
Arab. (Al Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur’an dijelaskan sangat
banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah.
Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika
Isa ‘alaihissalam diturunkan. Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa?
Salah satunya adalah: “Tidaklah aku diutus, melainkan kepada domba-
domba sesat dari kalangan Bani Israil.” Meskipun Isa adalah bagian
dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum
Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil (bukan
mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa
juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil.
Isa dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani
Israil sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi
setelah Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa
Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi
Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan
perilaku jahat kaum Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi
tercabut akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-
kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa,
Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi
shallallah ‘alaihi wa sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum
Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-
yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di
berbagai negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman,
Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik.
Mereka tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan
asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama
membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka
menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-ritual
pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka membunuh warga setempat
untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk persembahan. Begitu
kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang di dalamnya
penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk mengalirkan
darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai tubuhnya
penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual
semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-
negara tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol
melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini, karena
kekejaman mereka dalam soal ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke
negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu
itu rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru
ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika
merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga
ketika itu Benyamin Franklin mengingatkan bangsa Amerika tentang
bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi seperti bangsa “vampire” yang
tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat sekali ucapan Benyamin
Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di Eropa.
Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan Benyamin
Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun
silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini
adalah akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli
sejarah, yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian
ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi
shallallah ‘alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu,
peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi
diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah masyarakat Turki
Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam yang
memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama
mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka
diberi pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu
saja, Yahudi berusaha “bersikap sopan”. Di seluruh dunia tidak ada
yang memperlakukan mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam.
Disini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan yang
mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi waktu itu tinggal di bawah negeri
Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk oleh
Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani,
Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi
berlaku baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan
segala konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah
Islam justru dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium
kejahatan di seluruh dunia, seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan
beberapa jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

· Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat
Turki Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi
kekafiran secara langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme
August Comte. Dengan falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan
kehilangan sifat furqan akidah Islam, lalu diganti sifat-sifat
kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini adalah memisahkan generasi
muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu pula, suatu saat
generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan Khilafah
Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang terkutuk.

· Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia
Islam. Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah
Islamiyyah. Kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang
egois sesuai etnik dan wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap
berdiri, mustahil “Kerajaan Yahudi” dalam wujud Israel di Palestina
akan bangkit. Kalau Anda saksikan bangsa Arab terpecah-belah menjadi
negara-negara kecil, masing-masing saling konflik. Hal itu adalah
kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu Jalaluddin Al
Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan negara-negara
Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka hasil-
hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia Freemasonry. .
(Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran
keagamaan di dunia). Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat
Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

· Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham
demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri
Islam. Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-
peluang kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara
terbanyak, sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa
nafsunya.

· Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-
agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya
negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di
balik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara
potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi
internasional, isu Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia
internasional. Melalui hak veto yang dimiliki Amerika dan Inggris di
PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar ambisi-ambisinya.

· Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa,
membuat satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar
keuangan dunia, memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank..
Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset,
fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di
kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme,
Pluralisme, Liberalisme) . Inilah kenyataan yang kemudian disebut
sebagai: “Yahudi menggenggam dunia!” Bahkan negara sekuat Amerika pun
bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama yang
sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak
jaman Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad
shallallah ‘alaihi wa sallam. Yahudi sangat membutuhkan “Kerajaan
Bani Israil” untuk mengalahkan orang-orang kafir. Mereka sebenarnya
beriman kepada Allah, dalam arti mereka percaya bahwa datangnya
seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan musuh-musuhnya dari
kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas di mata mereka
bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka mereka
tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka
lakukan? Mereka hendak mendirikan “Kerajaan Bani Israil” dengan
kekuatan tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil,
tahun 1948 lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin
sebagai orang kafir. Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah
adalah mereka, sehingga disebut kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu
itu ada tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia.
Mengapa dipilih tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan
perhitungan yang sangat cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke
Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri
di Yerusalem dan sekitarnya. Namun resikonya, disini akan menghadapi
banyak tantangan dari negara-negara tetangganya yang mayoritas
Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus mempersiapkan segala macam
kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara
Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi
konflik berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya,
selain karena memang “Kerajaan Bani Israil” merupakan cita-cita
peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya
tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB, Amerika,
Inggris, Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi kepentingan
Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak agen-agen Yahudi yang
tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari, siang dan malam
menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang kafir,
meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki, dll. banyak
orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi..
Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Bahrain, dll. banyak
dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil
konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti
Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya tidak
kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama
Samawi (ajaran Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya,
Yahya, Isa ‘alaihimussalam) . Mereka adalah orang-orang yang sangat
arogan dengan etnisnya. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan
terhadap etnis mereka sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang
sangat ekstrim dalam soal etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya
sampai mereka berani menghina Allah, marah ketika Isa membawa ajaran
Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab.
Mereka menulis “kitab suci” tandingan bagi Taurat (Talmud), menyebut
bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di muka bumi.
Mereka merasa mulia sebagai pewaris “darah biru” Nabi-nabi, merasa
diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh
Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi
benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah
mendebat Allah Ta’ala: “Ana
khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min thiin” (aku
lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau
ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di
dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar
jika simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa
satanic.. Contoh, logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini
the red devil. Dan ada ribuan logo atau lambang yang intinya memuja
arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk “Kerajaan
Bani Israil” seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya
membangun negara seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak,
strategi canggih, serta SDM handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun
negara di sebuah sudut dunia. Selama ini banyak negara-negara berdiri
dengan modal lebih buruk dari Israel. Negara seperti Bosnia,
Chechnya, Kamboja, Myanmar, Timor Leste, dan lainnya tidak memiliki
persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa Israel harus
mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik Ummat
Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur
Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus
menegakkan “Kerajaan Bani Israil” di Palestina, mengapa mereka harus
juga menghancurkan peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak
cukup menempuh cara-cara politik atau militer, tanpa harus
menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan yang sangat menyakitkan,
berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan menteror warga Muslim
Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran peradaban di
seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang selamat
dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World
Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan
lainnya? Hingga ke anak-anak balita pun, banyak “diracuni” oleh
kartun-kartun Walt Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat
mempercayai khabar Al Qur’an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat
Al Qur’an, tetapi anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al
Qur’an. Yahudi sangat mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa’
berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab
itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua
kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang
besar.”

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua
(kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang
mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-
kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka
kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan
Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu
sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu
sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua,
(Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu
dan mereka masuk ke dalam Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-
musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-
habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Surat Al Israa’: 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman
dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-
berai. Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi
kuat dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat
sekarang ini, ketika “Yahudi menggenggam dunia”. Dan nanti di puncak
kezhalimannya, Israel akan dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan
Sulaiman dulu dihancurkan. Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua
itu tidak dihitung saat Yahudi dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI
Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu itu Yahudi belum memiliki
wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri orang. Adapun saat
ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat sebagaimana
Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani “jadwal sejarah” sebagaimana disebutkan
Al Qur’an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk
merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan saat
ini. Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan
mengatakan bahwa 6 juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di
dunia. Yahudi tidak merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel,
bahkan tidak cukup dengan menempuh jalur politik, mereka benar-benar
ingin merajalela di bumi dengan segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin
melawan Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab
dan Ummat Islam sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka
ingin melawan Allah Ta’ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Yahudi adalah satu-satunya ras manusia yang berani menghina Allah
dengan ucapan mereka: “Tangan Allah terbelenggu. ” Kemudian mereka
dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu. (Al Maa’idah: 64). Mereka
pula yang berani mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu fakir dan kami
kaya raya.” (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah yang amat
sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur’an, tetapi sekaligus
menentang eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis
yang mengimani Allah, tetapi mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan
maksudnya, Yahudi mengangkat simbol “Messiah”, yang pada hakikatnya
adalah dajjal laknatullah. Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah
terbesar bagi orang-orang beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina.
Ia adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah
mereka. Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku
tertentu. Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan
watak durjana luar biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu “telah
disiapkan” untuk menjadi cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir
merasa heran, mengapa A Qur’an banyak sekali bicara tentang Yahudi?
Padahal setelah tercerai-berai di Madinah, mereka nyaris lenyap
(mungkin karena eksodus keluar dari negeri-negeri Islam). Karena itu
sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi adalah memahami sifat-sifat
mereka dalam Al Qur’an (khususnya Surat Al Baqarah). Dan satu lagi,
yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan serangan terakhir
mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!

From → Islam

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: