Skip to content

DENSUS MELANGGAR HAM

October 6, 2010

Penanganan aksi terorisme yang dilakukan Densus 88 menuai kritik dan kecaman banyak kalangan. Bahkan keluarga korban yang diduga teroris melaporkan Densus 88 ke Komnas HAM.

Sejumlah organisasi mendampingi istri terduga teroris Khairul Ghazali, Kartini Panggabean melaporkan tindakan Densus 88 ke Komnas HAM. Lantaran penangkapan Khairul di Tanjung Balai, Medan awal pekan lalu dinilai melanggar nilai hak asasi manusia.

Sebagaimana dilaporkan situs Republika hari ini (Jumat,1/10), kedatangan Kartini bersama Tim Pembela Muslim (TPM) Medan dan Forum Umat Islam (FUI) diterima langsung Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim. Rombongan tiba di Kantor Komnas HAM Jumat, sekitar pukul 13.50 WIB.

Ketua Tim Pengacara Muslim Medan, Mahmud Irsan Lubis, mengatakan, laporan ke Komnas HAM, merupakan bentuk upaya litigasi demi mendapatkan keadilan dalam proses penangkapan suami Kartini. Mahmud menuturkan, “Terjadi pelanggaran HAM ketika Densus masuk ke dalam rumahnya dan menodongkan senjata ke Kartini dan membawanya keluar dari rumah.”

Ia juga menekankan, berdasarkan kronologi peristiwa dari Kartini, pihak Densus 88 juga melanggar HAM, ketika menangkap Khairul yang tengah menunaikan sholat Maghrib. Selain melapor ke Komnas HAM, rencananya Kartini ditemani oleh TPM akan juga melapor ke Komnas Anak, pada Sabtu esok (2/10).

Menanggapi laporan ini, Ifdhal Kasim menilai ada unsur pelanggaran HAM. Dari sudut pemaparannya, lanjutnya, merupakan pelanggaran serius terhadap prosedur hukum dan HAM. “Orang yang tersangka punya hak untuk didampingi penasehat hukum dan tak disiksa. Apalagi dalam menjalankan ibadah. Apalagi belum ada indikasi perlawanan,” nilai Ifdhal.

Menurutnya,dalam UU Antiteror terdapat sebuah fasilitas khusus untuk menangkap tanpa pemberitahuan selama tujuh hari. Namun,jelas Ifdhal, karena Densus 88 terikat dengan prosedur hukum acara pidana, mereka harus mengacu kesana. “Penggunaan paksaan itu tidak tepat,”cetus Ifdhal.

Sebagai tindak lanjutnya,Komnas HAM bakal mendalami keterangan dari para saksi peristiwa tersebut. Selanjutnya seluruh keterangan akan dikonfrontir dengan pihak lain, seperti terlapor.

Bukan hanya keluarga Khairul yang kecewa atas tindakan Densus 88. Pihak keluarga Yuki pun mempersoalkan tudingan bahwa Yuki Wantoro melakukan perampokan Bank CIMB Medan. Mereka menilainya tidak berdasar sama sekali.

Pasalnya, keluarga Yuki punya alibi kuat karena pada saat kejadian Yuki berada di Solo untuk membuat KTP. Umat Islam terutama keluarga Yuki bertanya-tanya, kenapa Yuki dituduh teroris pelaku perampokan lalu di tembak mati oleh Densus?

Hal itu diungkapkan dalam jumpa pers keluarga Yuki Wantoro yang didampingi oleh didampingi oleh ISAC (The Islamic Study and Action Center), di Masjid Al Hidayah kampung Tempel Joyosuran Kecamatan Pasar Kliwon Solo tak jauh dari rumah tinggal Yuki, Senin malam (27/9/2010).

Dalam siaran pers yang dilakukan jelang keberangkatan ke Jakarta untuk mengambil jenazah Yuki tersebut, Ketua ISAC Wawan Kurniawan menjelaskan bahwa organisasi ini terpanggil untuk mengurus jenazah Yuki sudah menjadi kewajiban sesama saudara muslim.

Sementara itu Sekretaris ISAC, Endro Sudarso mengungkapkan, ada dua kejanggalan dalam penembakan Yuki oleh Densus. Pertama, mengapa Yuki dituduh terlibat perampokan Bank CIMB Niaga pada tanggal 18 Agustus 2010, padahal pada saat itu Yuki berada di Solo? Kedua, mengapa Yuki langsung ditembak mati oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri ?

Tidak hanya itu, Mabes sendiri sampai saat ini juga
belum memberikan surat penangkapan kepada keluarga. Endro mencurigai
ada rekayasa terhadap kasus ini.

Ironisnya hingga kini pihak kepolisian tidak pernah menjelaskan mengapa korban harus dibunuh di tempat, tanpa mekanisme pengadilan sebagaimana kejahatan lainnya. Terlalu klise beralasan menembak mereka di tempat karena berbahaya terutama bagi anggota Densus sendiri.

Bagaimana membuktikan mereka teroris, tanpa mekanisme hukum di pengadilan. Sampai kini polisi tidak menjelaskan alasan khairul maupun Yuki sebagai teroris, kecuali alasan ideologi yang diyakini keduanya.

Kita berharap semoga mereka bukan korban-korban kecil yang dimanfaatkan dalam sebuah skenario besar. Jangan sampai kita mengorbankan keadilan hanya gara-gara kita terlanjur menyetujui aksi penumpasan terorisme yang dilakukan Densus 88, padahal belum tentu para tersangka yang tewas itu adalah teroris.(IRIB/PH)

source:

http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&view=article&id=25807:densus-88-langgar-ham-&catid=16:cakrawala-indonesia&Itemid=59

One Comment
  1. stanley permalink

    Laporkan saja klo bisa ke mahkamah internasional. Orang bertamu di tembak, org mau nikah di tangkap gila apa..bentuk lain dr Petrus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: