Skip to content

AKBB Revisited

May 12, 2013

Anand Krishna

Sosok lain yang agak menonjol dari ‘komunitas’ AKKBB adalah Anand Krishna, yang bernama asli Krishna Kumar Tolaram. Ia selama ini dikenal sebagai spiritualis yang berasal dari India, dan telah menerbitkan puluhan buku yang selalu menjadi *bestseller* di pasaran. Selain menerbitkan buku, ia juga mendirikan Padepokan Anand Krishna (Anand Ashram) yang terletak di Sunter, Jakarta Utara. Siswanya tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Belum lama ini, ia mendirikan National Integration Movement (NIM).

Anand Krishna tidak sekedar sedang mengacaukan aqidah sejumlah orang yang tertarik dengan ajarannya, namun sebagaimana terbukti kemudian, ia melakukan sejumlah penipuan terhadap para muridnya itu. Salah seorang murid Anand, yaitu Krisna Wardhana (35 tahun) bercerita, Lima tahun menjadi siswa Anand, kami banyak diajarkan tentang kejujuran, kepercayaan, kesadaran, kepasrahan diri, dan bagaimana mengantar diri kepada kebaikan. Beliau selalu mengajarkan kami untuk bisnis yang jujur. Tapi, saya malah ditipu olehnya. Saya merasa kecewa dan tertipu (Tabloid NOVA edisi online 30 April 2006).

Ajaran Anand bukanlah sinkretis, tetapi lebih parah, meniadakan Tuhan. Hal ini bisa dilihat dari salah satu bukunya berjudul *S**urah-surah Terakhir Al-Quranul Karim Bagi Orang Modern, Sebuah Apresiasi*_, khususnya di halaman 8, Anand mengatakan: baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungka n kebaikan dengan apa yang kita sebut ‘Tuhan’ dan kejahatan dengan apa yang kita sebut ‘Setan’

Jadi, konsepsi ‘Tuhan’ menurut Anand tidak saja lebih rendah dari manusia, karena ‘Tuhan’ dilahirkan melalui sistem kesadaran yang ada di dalam diri manusia, bahkan lebih jauh dari itu, menurut Anand, ‘Tuhan’ itu sejenis atau sederajat dengan ‘setan’ yang juga merupakan ciptaan manusia melalui sistem
kesadarannya.

Selain memiliki konsep ketuhanan yang kacau, Anand juga cenderung melecehkan syari’at Islam, misalnya tentang jilbab. Pada buku Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan (hal. 20), Anand Krishna tidak saja melecehkan, tetapi menyebutkan bahwa sumber hukum tentang jilbab tidak jelas: saya bertanya pada seorang wanita, mengapa ia selalu menutup lehernya, padahal cuaca di Jakarta cukup panas dan saya melihat bahwa ia sendiri kegerahan ‘Mengapa kau tidak buka saja lehermu itu?’ Saya terkejut sekali mendengarkan jawabannya, ‘Cowok-cowok biasanya terangsang melihat leher cewek, itu sebabnya saya menutupinya. ‘ Ia membenarkan hal itu dengan menggunakan dalil Lucu, aneh! Ia diperbudak oleh peraturan-peraturan yang sumbernya pun tidak jelas.

Banyak yang terpukau dengan celoteh Anand Krishna, namun keterpukauan itu sirna seketika, manakala mereka sudah merasakan betapa pahitnya ditipu
Anand. Dan penyesalan biasanya datang terlambat.

Goenawan Mohamad

Taufiq Ismail (penyair terkemuka) pernah mempopulerkan istilah Gerakan Syahwat Merdeka (GSM). Ada yang bilang, GSM itu kependekan dari nama lengkap Goenawan Susatyo Mohamad, teman Gus Dur juga, yang identik dengan Tempo (majalah dan koran).

Goenawan Mohamad memang tidak hanya lekat dengan dunia jurnalistik, tetapi juga dunia sastra dan budaya. Bahkan namanya sangat senyawa dengan nama Utan Kayu. Di Utan Kayu tidak saja bermukim JIL (Jaringan Islam Liberal), tetapi juga komunitas seniman seperti aktivis Teater Utan Kayu, dan Sastrawan Utan Kayu lainnya.

Keprihatinan Taufiq Ismail terhadap lahirnya SMS (sastra mazhab selangkang) yang bersumber dari Komunitas Utan Kayu tadi, melahirkan sebuah akronim GSM (Gerakan Syahwat Merdeka), atau Goenawan Susatyo Mohamad.

Nama Goenawan Mohamad juga menjadi bagian dari hampir tiga ratus nama yang mendukung petisi AKKBB. Dan GM –begitu namanya biasa disingkat– termasuk yang menonjol.

Keprihatinan Taufiq Ismail terhadap keberadaan Gerakan Syahwat Merdeka ini semakin menguat, karena biasanya di negara-negara lain, yang menjadi produsen SMS (sastra mazhab selangkang) adalah sastrawan pria, namun di Indonesia (khususnya di Utan Kayu), yang menonjol adalah sastrawatinya.

Selain mempopulerkan akronim GSM, Taufiq Ismail juga mempopulerkan FAK yang merupakan kependekan dari Fiksi Alat Kelamin. Menurut Taufiq, FAK bagian dari SMS (sastra mazhab selangkang) yang dipelopori oleh seniman asal Utan Kayu, yaitu Ayu Utami dan Jenar Mahesa Ayu. Keduanya punya kedekatan dengan Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad juga lekat dengan Koran Tempo. Nah, pasca Insiden Monas 01 Juni 2008, keesokan harinya Koran Tempo memuat sebuah foto yang sangat tendensius. Sebuah foto yang menampilkan Munarman sedang mencekik pria kurus, yang oleh Koran Tempo disebut sebagai anggota AKKBB. Eh, ternyata yang dicekik Munarman adalah anggotanya sendiri, bukan anggota AKKBB sebagaimana hendak di-opini-kan Koran Tempo.

Munarman melakukan itu, dengan maksud mencegah yang bersangkutan dari
melakukan tindakan anarkis yang tidak perlu. Dengan demikian, yang ditempuh Koran Tempo itu adalah: Maksud hati mau membentuk opini yang negatif untuk Laskar Islam (dan laskar FPI), malahan muka sendiri yang tercoreng.

Media elektronik dan aktivis AKKB saat diwawancarai juga berusaha membentuk opini, bahwa kekerasan yang dilakukan Laskar Islam pimpinan Munarman telah menjadikan anak-anak sebagai korbannya. Karena, di lapangan terlihat ada seorang bocah yang tersudut di dinding sambil menangis, sebagaimana tertangkap sejumlah kamera teve. Ternyata bocah itu bukan korban, tetapi anak dari salah seorang Laskar Islam yang ikut bapaknya yaitu Ustadz Tubagus Sidik.
Goenawan Mohamad dan Tel Aviv University

Sebelum terkuak kecerobohan- kecerobohan media massa dan kegiatan jurnalistik yang dipimpin Goenawan Mohammad atau yang pro dengannya, masih ada sedikit pengakuan dari aktivis Islam seperti Adian Husaini, ketika Goenawan Mohammad dihadiahi oleh Israel bidang jurnalistik. Kritik Adian bukan tertuju pada jurnalistik ala Goenawam Mohamad tetapi adalah tentang sekularisasi dengan aneka rekayasanya yang digencarkan Goenawan Mohammad. Ada baiknya sekarang Adian Husaini meralat semacam pengakuannya bidang jurnalistik, seni, dan sastra dari Goenawan Mohamad itu, setelah terkuak kasus kecerobohannya sekarang ini yang sampai pada tingkat menjijikkan.

Umat perlu dijelaskan, agar tidak samar lagi tentang kecerobohan- kecerobohannya, karena dalam tulisan Adian Husaini masih ada
kalimat (yang bernada positif terhadap jurnalistiknya Goenawan Mohamad): Kita perlu menghormati dan mencermatinya, mengambil sisi positif dari prestasi jurnalistiknya. Tetapi, pada saat yang sama, juga wajib meluruskan pendapat-pendapatnya yang keliru dan merusak Islam.
Untuk lebih transparannya tentang komentar Adian Husaini terhadap Goenawan Mohamad sebelum terkuak kecerobohannya dan mendapat hadiah dari Israel, berikut ini kami kutip tulisan Adian Husaini seperlunya, di bawah judul Dawam Rahardjo, Goenawan Mohammad, dan Israel:

Yang juga menarik untuk dicermati, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan mengadakan jumpa pers-nya di Utan Kayu 68 H, yang selama ini dikenal sebagai markas kelompok liberal, yang salah satu bos besarnya adalah Goenawan Muhammad.

Dari tempat inilah, gerakan penolakan anti RUU-APP digalang, terutama melalui Radio Utan Kayu. Dalam minggu ini, ada berita yang menarik bagi umat Islam berkaitan dengan Goenawan Mohammad. *Yaitu, diberikannya penghargaan ‘Dan David Prize’ oleh Tel Aviv University kepada Goenawan Mohammad.

Seperti dilaporkan sejumlah media massa di Jakarta, pemberian penghargaan yang dilakukan oleh Universitas Tel Aviv (TAU) itu didasarkan kepada aktivitas Goenawan selama 30 tahun terakhir yang memperjuangkan kebebasan pers dan jurnalisme yang independen di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia. (http://www.dandavidprize.com/)

Seperti telah diberitakan harian lokal Israel, Haaretz, edisi 18 April lalu, Goenawan Mohamad akan menerima hadiah uang senilai 250 ribu dolar AS (Rp 250 juta?). Dan David Prize mulai diberikan pada tahun 2002 kepada para individual dan institusi yang telah memberikan kontribusi unik dan besar dalam sektor kemanusiaan, termasuk di antaranya kontribusi di bidang ilmu pengetahuan alam, seni, dan bisnis dalam tiga dimensi waktu – lampau, kini, dan akan datang.

Penghargaan ini mengambil nama seorang pengusaha Yahudi yaitu Dan David. Penyelenggaraannya dilakukan oleh TAU secara rutin tiap tahun di Tel Aviv.

Goenawan telah beberapa kali menerima penghargaan. Setidaknya pada tahun 1992 ia sempat dianugerahi penghargaan Profesor Teeuw dari Universitas Leiden, Belanda. Pada tahun 1998, ayah dari dua anak ini menerima penghargaan internasional dalam hal Kebebasan Pers dari Komite Pelindung Jurnalis. Setahun kemudian, ia menerima penghargaan dari World Press Review, Amerika Serikat, untuk kategori Editor Internasional.

Popularitas GM dalam dunia pers tidaklah diragukan. Dia telah berjasa melahirkan mengkader banyak jurnalis di Indonesia. Tapi, terlepas dari soal itu, Goenawan juga sukses menggerakkan proses sekularisasi di Indonesia. Dia berperan besar ‘membesarkan’ Abdurrahman Wahid dan Nurcohlis Madjid, sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia.

Seorang sahabat dekat Goenawan pernah bercerita kepada saya, bahwa apa yang Goenawan kerjakan terhadap Ulil Abshar Abdalla saat ini sama dengan apa yang dulu dia kerjakan terhadap Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid pada awal-awal 1970-an. Akhir-akhir ini, Goenawan sering menulis tentang Islam.

Tulisannya tentang RUU APP, yang berjudul ‘RUU Porno: Arab atau Indonesia’, menjadi salah satu inspirasi penting kaum Hindu di Bali dan para penentang RUU APP lainnya dalam menolak keras RUU tersebut.

Dalam perspektif ini, bisa dipahami, bahwa pihak Israel memilih Goenawan sebagai sosok yang layak diberi penghargaan. Liberalisasi Islam di Indonesia berhasil menggerus keimanan kaum Muslim dan dalam jangka panjang, memuluskan pembukaan hubungan Indonesia-Israel. Terlepas dari kualitas teknik jurnalistiknya, bisa dikatakan, Goenawan Mohammad merupakan sosok tokoh pers yang konsisten dalam meliberalkan Islam di Indonesia. Itulah pilihan hidup Goenawan.

Kita perlu menghormati dan mencermatinya, mengambil sisi positif dari prestasi jurnalistiknya. Tetapi, pada saat yang sama, juga wajib meluruskan pendapat-pendapatnya yang keliru dan merusak Islam.

Bagi kita, amal kita, dan bagi Goenawan amal dia sendiri. Di dunia, Goenawan telah mendapatkan balasannya. Kita sama-sama menunggu balasan di Akhirat nanti. Wallahu a’lam. (Jakarta, 28 April 2006/hidayatullah. com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini merupakan hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com/

From → Islam

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: