Skip to content

Metodologi Studi Islam dan Pluralisme

May 12, 2013

Buku-buku tentang Metodologi Studi Islam (MSI) yang diajarkan di beberapa Perguruan Tinggi Islam (PTI) sarat dengan ‘masalah’

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi*

hidayatullah.com–Akhir-akhir ini, banyak sorotan ditujukan pada Metodologi Studi Islam (MSI) yang diajarkan di beberapa perguruan tinggi Islam (PTI). Selama ini, MSI disinyalir banyak “bermasalah”. Salah satunya adalah buku MSI karangan Drs. Atang Abd. Hakim, MA dan Dr. Jaih Mubarak (Bandung: Remaja Rosda Karya, cet. XI, 2009).

Sebagaimana diketahui, tak sedikit PTI yang menjadikan buku ini sebagai rujukan. Sayangnya, tak banyak orang tahu, buku ini sarat masalah. Setidaknya, ada dua titik penting yang penulis anggap bermasalah dalam buku ini; pertama, pluralisme agama, dan kedua, masalah absolusitas agama.

Pluralisme Agama

Dalam buku ini, disinggung tentang Islam dan agama-agama. Dalam sub judul Islam dalam Wacana Agama-agama, penulisnya menyatakan bahwa kebenaran itu dapat diperoleh melalui dua cara: pertama, kebenaran filosofis. Dalam konteks ini, Islam dan agama-agama lain (seperti Yahudi, Kristen, Budha, termasuk aliran kepercayaan) sama-sama ingin mencapai Realitas Tertinggi (the Ultimate Reality). Kristen dan Islam menerjemahkan ‘Realitas Tertinggi’ sebagai Allah (dengan pelafalan yang sedikit berbeda), Yahudi sebagai Yehova, juga dengan keyakinan yang lain. Ini berarti yang dikejar sebagai Realitas Tertinggi sebenarnya adalah satu. Itulah yang menyebabkan Frithjof Schuon mengatakan bahwa semua agama itu sama pada alam transendental. Pada alam itu, semua mengejar Realitas Tertinggi (hlm. 4).

Ini jelas problem dan tidak jelas dalam memaparkan konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Apalagi penulisnya mengutip pendapat Frithjof Schuon yang nota-bene seorang pluralis tulen dalam ranah kajian agama-agama. Dalam bukunya The Transcendent Unity of Religion Schuon memang mengatakan tidak ada perbedaan agama-agama dalam titik transcendent. Semuanya mengejar dan menuju titik yang sama. Dalam bahasa Schuon adalah ranah “batin” (esoteric). Tapi jelas ini adalah konsep yang rancu. Karena secara esoteric pun agama-agama itu berbeda secara diametral.

Karena jika dilihat secara kritis, Islam sangat berbeda secara fundamental dalam memandang –katakan—Realitas Tertinggi itu. Konsep Tuhan dalam Islam adalah “final”. Nama Tuhan umat Islam adalah “Allah”, sebagaimana dijelaskan oleh Allah sendiri di dalam Al-Qur’ān (lihat misalnya, Qs. 20: 14, lihat juga Qs. 2: 255). Allah sebagai “Rabb”, sudah dijelaskan oleh-Nya dalam wahyu perdana kepada Rasulullah di Gua Hira’ (Qs. 96: 1-5).

Sementara dalam Yahudi konsep tuhannya tidak jelas. Mereka menyebut tuhannya dengan Y-H-W-H, hanya boleh dieja tapi tak boleh dijelaskan secara detil. Akhirnya dalam bahasa Yunani diterjemahkan menjadi Adonai. Siapakah tuhan mereka? Sebut saja Yahweh. Siapa Yahweh? Tidak jelas.

Begitu juga dengan Kristen. Mereka punya dogma Trinitas (Arab: Tatslīts atau Tsālūts) untuk menjelaskan ‘misteri ketuhanan’ mereka. Maka tidak benar jika dikatakan hanya beda pelafalan dengan Islam dalam memandang Realitas Tertinggi itu. Bahkan, di dalam Al-Qur’ān konsep trinitas ini dikritik habis-habisan. Ini pula yang membuat mereka berang dan tak menyukai Al-Qur’ān. Konsep tauhīd Islam selamanya tidak bisa disatukan dengan konsep Trinitas yang penuh teka-teki tak berjawab itu. Lalu, apa dasarnya penulis buku MSI di atas menyatakan bahwa Islam dan Kristen tidak memiliki perbedaan.

Hanya pendapat Schuon?

Bagaimana pula dengan agama-agama lain, seperti Budha, Hindu dan aliran kepercayaan? Budha tidak memiliki konsep tuhan yang jelas. Kata Budha pun baru ada setelah Sidharta Gawtama (yang dijuluki sebagai Budha) wafat. Dan itu penisbatan kepada orang. Tuhan mereka adalah Trimurti (mirip dengan Trinitas, karena disinyalir sumber trinitas adalah trimurti ini). Begitu pula dengan Hindu yang mengenal trimurti juga: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di samping mereka mengenal manusia titisan Tuhan, yaitu Krishna. Menyamakan seluruhnya dengan konsep tuhan dalam Islam adalah keliru besar (lihat Qs. 112: 1-4). (Lihat pembahasan masalah ini dalam Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis, (Jakarta: Gema Insani Press, cet. III, 2007: 168-171).

Masalah Absolusitas dan Profanitas

Sisi kedua dalam memperoleh kebenaran menurut mereka, adalah “sisi sosiologis”. Jika dalam sisi filosofis mereka mengklaim semua agama tidak berbeda dalam memandang Realitas Tertinggi, dalam tataran sosiologis klaim tentang Realitas Tertinggi menjadi berbeda. Maka, klaim kebenaran pun menjadi berbeda. Islam, menurut mereka, mengklaim agamanya yang paling benar. Begitu juga, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan. Padahal, klaim mereka, perbedaan yang hakiki bukan terletak pada Realitas Tertinggi. Di sinilah timbul konflik kebenaran , baik ekstra agama maupun intra-agama.

Dalam Al-Qur’ān terdapat tuntunan yang banyak membicarakan Realitas Tertinggi yang menunjukkan bahwa Ia, secara filosofis, tidak menerima kebenaran selain-Nya. Namun di sisi lain (sosiologis), ia juga sangat toleran menerima kehadiran keyakinan lain (lakum dīnukum waliyadīn). Di samping itu, para pemikir Muslim cenderung moderat dan sangat toleran.

Atas dasar dua kebenaran tersebut, menurut mereka, sebaiknya Realitas Tertinggi dijadikan ugeran atau patokan. Jika Realitas Tertinggi pada hakikatnya satu, maka secara otomatis prinsip-prinsip filosofis yang digunakan semua agama juga satu. Yang sebaiknya dipertahankan bukan simbol agama, melainkan kebenaran yang sebenarnya dikejar oleh setiap agama (hlm. 4-5).

Jika diperhatikan, apa yang mereka tawarkan mengandung kekeliruan yang tidak kecil. Pertama, masalah klaim kebenaran (truth claim). Ini akan ada dalam setiap agama. Justru, dengan adanya truth claim itu agama-agama yang ada akan tetap lestari. Apakah fanatisme ini dilarang? Tentu tidak. Justru inilah konsep toleransi itu. Karena toleransi, menurut Muhammad Legenhausen, adalah: “menerima kehadiran agama lain yang menurut agama kita salah”. Bukan berarti menganggapnya benar. Legenhausen menulis, “…[T]rue religious tolerance will only be achieved when men learn to respect the religious beliefs of those they consider to be mistaken. The key to tolerance is not the removal or relativisation of disagreement, but the willingness to accept genuine disagreement.” (Anis Malik Thoha, ibid., hlm. 213).

Truth claim adalah wajar dan biasa terjadi. Tapi bukan itu yang menjadi sentral perhatian. Yang menjadi titik penting adalah, bagaimana agama-agama yang berbeda itu bisa saling menerima tradisi agama orang lain yang tidak sama dengan agamanya (yang diklaimnya paling benar). Klaim-klaim kebenaran itu, dalam Islam, tidak bisa dibiarkan. Ia harus didiskusikan agar klaimnya teruji dengan baik. Maka, akan ada kesimpulan bahwa agama tidaklah sama. Dengan diskusi pula, akan tampak bahwa agama Islam memiliki kelebihan. Dan semestinya, orang-orang yang mengetahui fakta itu memegang kebenaran dan kelebihan Islam (Qs. Al-Zumar [39]: 17-18). Allah pun sudah mengklaim agama-Nya yang paling benar, dan itu adalah Islam (Qs. 3: 19, 85). (Lihat kesaksian non-Muslim yang netral tentang keagungan dan kebenaran syari’at Islam dalam ‘Abd Allāh Nāshih ‘Ulwān, al-Islām Syarī’at al-Zamān wa al-Makān, (Mesir: Dār al-Salām), hlm. 42-43)

Kedua, kebenaran yang dikejar oleh setiap agama bisa saja diasumsikan “sama”. Tapi kesimpulan ini sangat tergesa-gesa. Jika konsep hidup dalam Islam adalah mempertahankan ‘aqidah dan jihad (al-hayatu ‘aqīdat wa jihād), maka dalam agama Budha berbeda. Begitu juga dengan agama-agama yang lain. Menurut agama Budha, dunia adalah ladang penderitaan, bagi Islam adalah ‘ladang amal’ (Qs. Al-Kahfi [18]: 110). Akhir kehidupan ini cuma satu di antara dua keputusan akhir: surga atau neraka. Konsepnya jelas dalam Al-Qur’ān.

Namun ada agama yang memandang bahwa akhir dari dunia ini adalah mencapai Nirwana (Nirvana). Dalam Islam, segala sesuatu akhirnya adalah menggapai ridha Allah (mardhātillāh), dalam agama lain bisa jadi berbeda. Oleh karenanya, ribā dalam Islam, tapi dalam agama Yahudi dibolehkan. Apalagi jika berinteraksi dengan agama non-Yahudi.

Simbol-simbol agama pun ternyata berbeda, tidak bisa disamakan. Meskipun dipaksakan bahwa pandangan filosofis terhadap Realitas Tertinggi ‘harus sama’, hal itu tidak bisa diterima. Karenanya, logika penulis MSI ini sulit untuk diterima. Apalagi jika harus memaksakan bahwa truth claim tidak boleh ada. Bahkan andai anjuran agar pandangan terhadap ‘Realitas Tertinggi’ itu harus sama, bahkan sebenarnya, kata ‘Realitas Tertinggi’ pun masih bermasalah. Dengan demikian, alih-alih menawarkan Islam yang dapat diajarkan secara metodologis, malah menawarkan Islam yang dipaksakan menerima pluralisme agama. Suatu kesimpulan yang tidak metodoglogis, bahkan amat tendensius. Wallāhu a’lamu bi al-shawāb.

*) Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana Studi Islam (Dirāsāt Islāmiyyah) di Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Gontor-Ponorogo.

From → Islam

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: